Kamis, 24 November 2011

Jumat, 09 September 2011

JEJAK HIDUPKU DI LDK “UF”


Awal ku tahu LDK “UF“

Sudah tiga tahun silam yang lalu awal-awal ku masuk di kampus jingga, IAIN ”Sultan Maulana Hasanuddin“ Banten, tak jauh berbeda keelokan namaku tercatat sebagai anggota LDK ”UF“. Hampir pupus memori ingatan ini mengulang masa-masa itu dalam skeneario cerita di lembaran awal ku singgah di kampus ini. Namun kan kucoba urai kembali kenangan masa itu, untuk mengenang jejak-jejak kehidupan di masa lalu.   
Testing penerimaan mahasiswa baru usai ku lakukan di kampus ini, yang pada saat itu diikuti seribu lebih calon mahasiswa yang mendaftarkan diri sebagai peserta test masuk. Beberapa pekan kemudian, Alhamdulillah, terpampanglah nama kepanjanganku beserta nomor peserta test di papan pengumuman tepat di depan gedung rektorat samping kanan. Rasa senang dan gembira kian menyatu menjadi kebahagiaan yang tak terkira kala itu sebagai pejuang yang lolos dari halang rintang hingga kemudian menjadi mahasiswa di jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Akan tetapi, perjuangan itu tidak cukup sampai di sana, melainkan meski ikut serta juga dalam program orientasi kampus yang merupakan program wajib untuk mahasiswa baru ataupun mahasiswa lama yang belum mengikutinya. Orientasi pengenalan kampus yang diselenggarakan saat itu bernama OPEKA’07 (Orientasi Pengenalan Akademik tahun 2007). Dengan hati bertanya-tanya dan rasa penasaran ingin mengetahui kampus yang tengah ku duduki saat itu lebih jauh lagi, baik dari segi akademis, letak geografis maupun seluruh organisasi atau unit kegiatan mahasiswa yang terdapat di dalamnya, dan akhirnya bersegeralah ku berniat untuk mendaftarkan diri sebagai peserta OPEKA’07 yang kemudian disambung dengan persiapan segala persyaratan dan kebutuhan hingga waktu pelaksanaan tiba.
Cikal bakal ku tahu UKM LDK “UF“ telah nampak ketika mengikuti program  orientasi itu. Hari demi hari kulalui dengan penuh penghayatan hingga datang saat-saat yang menggembirakan dan dinanti-nantikan, yaitu tatkala seluruh organisasi dan unit kegiatan mahasiswa menunjukkan kehebatan dan kebolehannya di depan peserta OPEKA’07 yang mengundang mahasiswa baru untuk bergabung di dalamnya. Namun dari sekian banyak organisasi dan UKM yang tampil di atas pentas, ada satu UKM yang mampu menggetarkan jiwaku akan pesona dan paras wibawa para organisatornya. MC pun memanggil mereka dengan suara menggema dan penuh kesemangatan di Auditorium yang sesak akibat penuhnya peserta. Kemudian mereka bergegas merasuk ke dalam Auditorium itu dengan barisan yang rapi dan teratur bagai prajurit yang siap bertempur di medan perang perjuangan. Sang protokol langsung mengambil alih acara dan memandu dari mulai pembukaan, perkenalan, penampilan-penampilan kreatifitas mereka hingga tanya jawab. Dan yang paling berkesan dan cukup memikat hati dari penampilan-penampilan itu adalah kreasi Nasyid yang seakan-akan hati ini terseret untuk bergabung dalam pementasan itu. Ternyata UKM itu bernama Lembaga Dakwah Kampus “Ummul Fikroh“ IAIN “SMH“  Banten.


Beginilah Seharusnya Cinta..

Cinta…, kata ini terdengar begitu indah nan syahdu pada setiap jiwa yang mendengar bisikannya, ia senantiasa datang kepada setiap insan yang hidup dan tumbuh berkembang di muka bumi ini. Pada bab ini tak sedikit orang membicarakannya karena cinta adalah fantasi hidup yang telah dianugerahkan Allah SWT Yang Maha Indah kepada seluruh makhluk-Nya di alam jagat raya ini. Cinta itu amatlah suci dan fitrah yang juga secara haq diberikan kepada umat manusia hingga kehidupan ini terasa indah, damai, tentram, bahagia dan mempesona atas keagungan yang terpancar di relung jiwa manusia. Sungguh hebat kekuatan cinta ini, mampu mengubah tatanan hidup dan kehidupan kita, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi bahkan dapat membolak balikkan stabilitas hati dan perasaan kita dari yang sedih menjadi senang, dari yang sulit menjadi mudah, dari yang berat menjadi ringan, dari yang malas menjadi semangat, dari yang lemah menjadi kuat dan lain sebagainya. Sehingga akan memberikan kebahagiaan yang sejati dan abadi di dunia dan bermakna di akhirat kelak nanti.
Namun, tak sedikit orang mengartikan dan memandang cinta sebagai bagian dari pada fitrah dan anugerah Allah SWT yang betul-betul meski dijaga, dipelihara, senantiasa disiram serta ditumbuhkembangkan dengan ayar-ayat-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rosul sebagai panduan hidup dan undang-undang kehidupan. Tapi kebanyakan mereka menganggap bahwa cinta datang membawa kesenangan diri yang teramat dahsyat dalam kehidupannya yang tiada batas. Secara tidak sadar mereka mempergunakannya sebagai pelampiasan nafsu angkara terhadap apa yang ia sedang cintai. Sehingga mereka terkadang jatuh terperanjat akan buaian keindahannya ke lembah kemusyrikan, kedzoliman, kejahatan, dan bahkan kemaksiatan. Dan terkadang pula dibuatnya mabuk kepayang di rundung asmara hingga terseret dalam lembah perzinahan. Na’udzu billah mindzalik! Cinta yang tidak terpelihara dan tidak dilandasi oleh aturan agama, akan menyulap seseorang yang berawal kesenangan berakhir dengan penderitaan, dari suka menjadi duka, dari yang mudah akan dipersulit, dari yang ringan akan menjadi berat, dari yang semangat akan menjadi malas, dari yang kuat menjadi lemah dan lain sebagainya. Itulah balasan bagi orang-orang yang tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah SWT. Permainan cinta ini, sesungguhnya diatur secara penuh oleh Islam yang kompleks dan menyeluruh. Jadi, kewajiban kita adalah mengamalkan syari’at Islam tersebut agar terbebaskan dari cinta palsu yang melenakan. Dengan senantiasa mengharapkan ridho dan rakmat-Nya.


Bercinta bersama LDK

Bila ku ingat masa-masa yang lalu, tak pernah ku rasakan keindahan hidup seindah hari-hari ini. Memang banyak kenangan berharga saat itu, tapi tak sebahagia hari-hari ini. Walaupun terkadang ingin kembali ke masa itu, tapi tetap ku ingin lanjutkan hari-hari ini. Namun, walaupun demikian kita harus senantiasa sadar bahwa masa yang lalu yang telah dilalui, hingga hari ini yang tengah dijalani adalah merupakan bagian dari rangkaian hidup untuk mencapai kesuksesan hakiki menuju esok hari nanti yang lebih baik. Karena sejatinya kebahagiaan seseorang betul-betul diperoleh dari kesulitan-kesulitan terlebih dahulu, kesuksesan seseorang ditemukan setelah gagal berpuluh-puluh bahkan ratusan kali, tapi mereka tetap tegar dan istiqomah menjalaninya. Sebagaimana dalam pepatah bilang “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu lalu senang kemudian”. Namun jika ia lelah dan tidak ingin terus bertahan, maka ia tidak akan mendapatkan kesenangan itu dan ia juga adalah seorang pecundang. Kebahagiaanku hari-hari ini berawal dari perjumpaanku dengan LDK “Ummul Fikroh” di kampus IAIN “SMH” Banten kala ini. Kehadirannya mampu menyulap kepribadianku menjadi insan Rabbani, generasi Qur’ani dan juga dapat mempertemukanku dengan teman-teman yang lainnya dalam barisan yang satu yakni ukhuwah Islamiyah. Kehadirannya juga mampu menghidupkan ruh-ruh baru dalam diri ini, hingga dapat meluluh lantakan segala bentuk kekhilafan, kemalasan, ketidaktahuan yang ada pada separuh jiwa yang lalu. LDK memang bukanlah makhluk hidup layaknya kita manusia, akan tetapi LDK adalah sebuah lembaga yang di dalamnya terdapat mesin-mesin canggih yang digerakan oleh Aktivis Dakwah Kampus dari generasi ke generasi, yang mengajarkan tentang perjalanan hidup yang lebih berarti dan bermakna di bawah naungan al-Qur’an dan al-Hadits. Hari demi hari kita lewati bersama dalam nuansa Islami yang dapat menyejukkan suasana hatiku di tengah panasnya era modern yang syarat dengan keangkuhan dan kesombongan manusia dewasa ini.
LDK juga membimbingku tentang bagaimana menjaga keagungan sentuhan cinta yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepada umat manusia. Siapapun yang mendapatkannya akan terpancarkan cahaya kebenaran dalam hatinya. Cinta yang pertama adalah cinta kepada Allah SWT sebagai sang Maha Pencipta alam raya ini beserta isinya, termasuk diri kita. LDK telah mengenalkan kepadaku untuk mengisi hari-hari kita untuk senantiasa membaca Al-Qur’an, mentadaburinya serta memahaminya dengan baik. Hal ini merupakan resep dasar untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah SWT dengan ayat cinta-Nya yang bisa menggetarkan jiwa seseorang yang bertaqwa. Kemudian LDK juga selalu mendorongku untuk berada di shof terdepan dalam shalat-shalat kita. Shalat-shalat yang kita dirikan baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah adalah langkah konkrit kita untuk berusaha mendekatkan diri ke haribaan-Nya. Dan LDK juga senantiasa membimbingku untuk bergaul dan berkumpul dengan orang-orang shaleh untuk mengambil hikmah dan ilmu dari mereka sebagai upaya meningkatkan keimanan kepada-Nya serta membiasakan  kita untuk selalu berdzikir di pagi dan petang dan menanamkan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT dalam hati kita. Dengan demikian hati kita akan senantiasa teduh di bawah naungan-Nya. Cinta yang kedua adalah cinta kepada Rasulullah SAW. Selain cinta kepada Allah, LDK juga mengenalkanku bagaimana mencintai rosulullah. Hal ini dibuktikan dengan senantiasa meneladani dan mengamalkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari kita, mulai dari Fi’liyah, Qouliyhnya, ataupun Taqririyah. LDK juga mengingaktkanku untuk selalu menyampaikan shalawat dan salam kepada rasulullah, karena atas jasanya, perjuangannya, dan pengorbanannya hingga tersebarnya agama Islam ini di hadapan kita semua. Dan LDK juga sering melatihku untuk belajar menyampaikan nasihat kepada hamba-hamba yang lain untuk beriman kepada Allah SWT, kitab-Nya dan Rasul-Nya. Karena kita sebagai umatnya wajib untuk menyambung dan melanjutkan perjuangan beliau dalam mngajak dan memperingatkan umat manusia untuk kembali ke syari’at Islam. Cinta yang ketiga adalah cinta kepada kedua orang tua kita. Ingatlah saudaraku bahwa merekalah yang telah membesarkan kita hingga saat ini. Mereka selalu memperhatikan semua kebutuhan kita, dari sejak buaian hingga kita beranjak dewasa. Apakah kita ingat saat-saat indah bersamanya dalam dekapan kasih dan sayangnya, suka dan dukanya, tawa dan tangisnya, kebahagiaan dan jeritannya dan banyak lagi yang ia laukukan untuk kita tercinta. Tak ada yang mampu menandingi kecintaan orang tua kepada anaknya hingga ia rela berkorban dan berjuang tanpa pamrih dan tak kenal lelah. Maka pantaslah Allah SWT menempatkan surga ditelapak kaki Ibu kita karena kemuliaan dan keagungan apa yang ia lakukan. Namun, jika kita lalai sedikit saja dan jauh daripada kecintaan kita kepada ibu kita, maka harga mati untuk kita terseret dalam jilatan api neraka yang teramat panas dan dahsyat. Al-Hamdulillah di LDK ini, kita senantiasa diingatkan untuk terus berbakti dan menjadi anak shaleh yang selalu mendoakannya hingga datang hari pembalasan kelak nanti. Semua ini kita laukukan hanya untuk mengharap ampunan dan lindungan dari Allah SWT. Dan semoga akan mendatangkan kebahagiaan hakiki di dunia dan di negeri akhirat kelak nanti.    


Menggali Potensi, Temukan Jati Diri

Pada awalnya, sebelum mendaftarkan diri sebagai calon anggota LDK “UF”, aku selalu mengira bahwa diri ini tak mampu melakukan segala sesuatu di luar kemampuan saat itu. Kadang hatipun merasa tak sanggup menjalani hidup di dunia organisasi dakwah ini yang mungkin disebabkan tidak adanya bakat dan pengalaman tentang organisasi ke-Islaman secara mendalam dan profesional, baik dari Sekolah Dasar hingga di Madrasah Aliyah kala itu. Hal itulah yang kadang menjadi beban psikis untuk dapat membasahi seluruh tubuh ini secara totalitas di dunia organisasi ini. Sungguh awalnya ku berniat hanya untuk bisa dan mampu berbicara di depan khalayak umum karena memang LDK merupakan salah satu wadah yang memfasilitasi untuk menggembleng keterampilan berbicara, yaitu berpidato. Serta harapan kedua yang ingin ku capai adalah mengembangkan minat dan bakat di nasyid yang memang pada saat itu pernah menjadi salah satu personil nasyid yang cukup terkenal di kalangan masyarakat serang dan cilegon, yaitu tim nasyid peace voice (suara perdamaian).
Selanjutnya, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim ku enyahkan segala perasaan psimis itu dan mulai ku dayung perahu layar ini menuju harapan dan cita yang terbesit dalam hati, yaitu ingin mampu berbicara di depan khalayak umum dan mengembangkan bakat keterampilan bernasyid. Dengan penuh kesadaran, akhirnya ku daftarkan diri untuk mengikuti kegiatan PERMATA XI (Penerimaan Anggota yang ke 11) yang waktu itu bertempat di Pon-pes Nurul Fikri Anyer. Subhanallah.. episode baru telah ku mulai dan sepertinya ku berada dalam wahana baru yang belum pernah dirasa sebelumnya betapa besar dan berharganya pengalaman baru itu yang takkan pernah terlupakkan dalam sepanjang hayatku. Dari pelatihan tersebut ku tahu LDK lebih jauh lagi dan ku paham Islam lebih mantap lagi, bukan hanya teori yang ku dapati akan  tetapi implementasi dari teori ke-Islaman itu sendiri, sehingga menjadi prinsip dasar dalam menempuh kehidupan ini. Betapa indahnya jama’ah dan persaudaraan ini, menjalani hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang satu sama lain saling mengingatkan di kala salah dan lupa. Akhirnya ku tersentak bahwa benar lingkungan itu sangat mendukung untuk membentuk karakter dan kepribadian orang. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan memilih lingkungan pergaulan, jika berada dalam lingkungan yang penuh dengan cahaya, maka akan selamatlah hidupnya, akan tetapi jika sudah terperosok dalam lubang kegelapan maka akan selamanya dalam kegelapan.
Hari demi hari ku lalui bersama LDK “UF”,  hingga pekanpun berganti menjadi bulan, dan terus ku sibukkan diri mengikuti runtinitas kegiatan-kegiatan yang telah dirancang pengurus saat itu, mulai dari kajian, ta’lim, mentoring dan tak lupa untuk latihan nasyid. Atas konsistensi dan ketaatan dalam setiap kegiatan selama satu tahun, maka tibalah saatnya pergantian pengurus yang baru dan melalui pertimbangan dewan formatur akhirnya ku diberikan amanah sebagai pengurus di Sekretaris umum LDK Fakultas tarbiyah dan adab tahun 2008-2009. Tak terasa ku lewati masa kepengurusanku yang terlihat amat belia sekali dalam menjalankan organisasi, tapi Alhamdulillah dari rapat ke rapat, dari kegiatan ke kegiatan, dari acara ke acara, mampu terealisasi bersama dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Banyak kenangan terindah dari pengalaman baru itu hingga dapat mengantarkan pada masa kepengurusan sekarang (2009-2010)  yaitu diberikan amanah lagi sebagai Sekretaris Umum di LDK “UF” IAIN “SMH” Banten. Dari perjalanan itu ku mampu mengerti arti hidup di dunia ini, moralitas yang terbangun kokoh, fikroh Islamiyah yang universal, ruhiyah/keimanan yang tertata rapi di qalbu dan juga jasadiyah yang kuat melakukan banyak hal. Ku terus belajar mengenal seluruh karakter, kepribadin, potensi dan keterampilan dari sahabat-sahabatku yang lain hingga mampu mengisi kekosongan potensi dari apa tidak aku bisa. Ternyata potensi itu bisa tergali melalui sebuah upaya dan usaha di bidang apapun yang kemudian akan menjadi tata nilai, menjadi keyakinan, menjadi sikap, dan kemudian menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi jati diri. Segala hal pasti akan bisa kita lakukan jika kita berupaya untuk mencobanya dari langkah awal hingga langkah-langkah berikutnya. Sesungguhnya kita bisa jika kita berfikir bias.


Meraih Prestasi Hidup, di LDK “UF“

Kepedulian dan kecintaan kita terhadap dakwah ini, perlu adanya upaya perjuangan dengan menjunjung dan menegakkannya. Dalam rangka perjuangan tersebut, maka perlu ada sebuah pengorbanan dan kesungguhan dalam mengarunginya. Namun untuk melangkah ke arah itu dibutuhkan suatu cara dan jalan terbaru dan diperlukan kekuatan yang hebat, yang tentunya meski kita lewati dengan kesabaran dan ketabahan. Jika tidak maka akan tergilas oleh masalah yang kian hari makin kompleks dan variatif. Untuk mendapatkan hal-hal baru tersebut dibutuhkan sebuah pemikiran yang baru serta dibutuhkan sebuah impian dan fantasi hidup dengan diiringi suatu pengamalan atas harapan tersebut. Pada kesempatan ini kenapa kita meski bermimpi, bukankah mimpi itu adalah hal yang tidak nyata? Terus kenapa kita harus mengatur pola pikir??? Saya katakan ia.. memang mimpi itu adalah hal yang tidak nampak, tidak nyata, sebuah imajinasi dan khayalan belaka. Tapi kita hayati ucapan syeh Hasan Al-Bana bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian di hari ini adalah kenyataan di hari esok. Dari pernyataan di atas jelaslah bahwa suatu kenyataan dan keniscayaan bermula dari sebuah pemikiran dan kinerja strategi pola pikir kita yang dibayangkan dalam sebuah impian, fantasi dan imajinasi. Sehingga ada tujuan dan sasaran yang harus di tempuh di dalam hidup ini. Dan ternyata kita harus bisa mengatur dan memenej impian tersebut dengan pola pikir kita secara positif. Sehingga bisa terpacu dan termotivasi untuk meraih suatu impian tersebut.
Selanjutnya, berbicara masalah prestasi, sungguh sangatlah menyenangkan hati. Prestasi adalah sebuah penghargaan dan penghormatan bagi orang-orang yang telah meraih suatu kesuksesan. Atas dasar perjuangan, pengorbanan dan keuletan serta bersungguh-sungguh menjalaninya dari segala bentuk tantangan dan rintangan. Prestasi juga adalah sesuatu yang sangat berharga, dan setiap yang berharga itu didapat tidak semudah membalikkan telapak tanggan, akan tetapi butuh proses yang relatif lama dan diperlukan kekuatan dan kesungguhan diri. Prestasi ini bila saya ibaratkan seperti mutiara yang indah dan harganya pun sangat mahal sekali. Akan tetapi mutiara tersebut sangat sulit untuk ditemukan, karena letaknya jauh di dasar laut dan diapit dengan kerang-kerang besar sehingga menambah rumitnya dalam pencarian. Untuk mendapatkan mutiara tersebut tidak semua orang bisa melakukannya, hanya orang-orang yang tetap berjuang, berkorban dan bersungguh-sungguh serta pantang menyerah walaupun banyak sekali halangan dan rintangan yang menghadangnya. Dengan demikian, karena ketegaran dan kesabaran hatinya, ia pantas mendapatkan mutiara yang indah dan sangat berharga ini walau dibungkus dengan hiruk-pikuk masalah yang teramat rumit di sepanjang jalan samudera laut kehidupan. Itulah prestasi yang ia ciptakan melalui keuletan mencari mutiara di dasar laut.
Saudaraku… Hal ini berarti sesuatu yang berharga pasti dilalui dengan sebuah perjuangan dalam menjalaninya, dan hasilnyapun akan sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering merasakan berat, susah, dan ada juga yang mengatakan lelah, cape dan lain sebagainya. Namun dibalik kesulitan-kesulitan itu ada penghargaan tinggi yang diberikan Allah bagi orang-orang selalu sabar, tabah dan tawakal serta selalu menikmati kesulitan-kesulitan itu, dengan berpandangan bahwa semua ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah SWT.
Saudaraku… Dengan demikian atas kesungguhannya menapaki kehidupan ini dengan penuh kesabaran, maka pantaslah ia mendapat tingkat yang lebih tinggi lagi. Semakin ia bersabar dan bersyukur maka semakin tinggi pula prestasi hidup yang ia dapatkan, terhormat di dunia dan mulia di akhirat kelak nanti. Yakinlah bahwa kita bisa untuk mendapatkan hal-hal yang berharga itu asalkan kita mau bersungguh-sungguh dan bersabar atas halangan dan rintangan hidup yang merupakan cobaan dan ujian dari Allah SWT. Semakin kita diuji, maka semakin tinggi pula pringkat dan derajat kita apabila dihadapi dengan kesungguhan hati dan kikhlasan diri. Wallahu a’alam bishowab…


Memikul Amanah Sebagai Sekretaris

  Peran sekretaris dalam sebuah Organisasi sangatlah penting, berdasarkan fungsi dan jobless yang diembannya. Orientasi tata kerja sekretaris secara menyeluh diantaranya adalah mewakili ketua berhalangan, menjadi fasilitator organisasi dalam menjalin hubungan dan kerjasama dengan lembaga intra dan ekstra kampus, membantu ketua dalam mengkoordinir program-program organisasi, mengkoordinasi divisi-divisi yang di bawahnya, bersama ketua umum melakukan kajian kegiatan dalam rangka peningkatan kegiatan dan bertanggungjawab kepada ketua umum.
Pada prinsipnya, harapan dan impian sebagai sosok sekretaris LDK “UF” pada periode ini menyandang hal-hal tersebut di atas, dengan berupaya sekuat tenaga dan se-optimal mungkin. Namun apalah daya diri tak mampu melakukan banyak hal dalam mencapai perubahan dalam tatanan organisasi ini dan kontribusi sekretaris juga dalam alur cerita organisasi ini masih belum bisa menyatu dengan divisi-divisi yang dibawahnya. Hanya inilah yang bisa sekretaris lakukan walaupun banyak kekurangan dan keterbatasan. Akan tetapi semangat perjuangan takkan pernah pudar yang menggejolak dalam jiwa, dan akan terus membara hingga mampu membakar kayu-kayu basah di sekelilingnya.
Semangat ini muncul dari sejarah perjuangan ketika studi banding ke UNJ, bukan hanya motivasi yang kami dapatkan, tapi beberapa pelajaran penting tentang manajemen lembaga dakwah di kampus besar itu, sehingga mampu membuka cakrawala berpikir kita untuk terus maju dan bergerak. Realita yang terjadi pada diri kita sendiri memang terletak pada ukhuwah kita terlihat sedikit renggang sehingga kekompakan dan persatuan sangat sulit diimplementasikan. 
Wahai saudaraku... Sungguh, jika diri ini selalu menyatu dalam barisan yang kokoh, maka perubahan akan terjadi pada diri kita. Setelah itu, bukan hanya diri kita yang akan berubah (LDK ”UF”), tapi kampus kita tercinta ini (IAIN ”SMH” Banten) juga akan memancarkan cahaya perubahan dengan kilauan yang berwarna-warni. Dan di antara kilauan cahaya itu terdapat karya-karya kita yang terukir dalam catatan sejarah peradaban IAIN sebagai jejak-jejak kehidupan kita.
Wahai saudaraku... Kita berjuang tidak hanya orientasi kemenangan dunia, akan tetapi jauh lebih agung dan mulia memperjuangkan tegaknya agama Allah di bumi IAIN ”SMH” Banten. Memang berat tugas kita, tapi tidak ada pilihan lain selain untuk berjuang di jalan ini. Hal ini menandakan jika kita tidak berjuang di jalan Allah, maka kita berjuang di jalan yang tidak diridhoi Allah, yang sungguh tidak akan mendapatkan kemanfaatan sedikitpun. Hal ini yang menjadi renungan kita untuk berjuang membina kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita, bahkan kampus yang kita injak saat ini. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, dan dari manapun kita, mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai panduan kita yang akan memberikan syafaat dan pertolongan di akhir kiamat nanti. Kita tetap berjuang dan berkorban dengan porsi dan level kita masing-masing. ”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Lanjutkan perjuangan! Allahu Akbar...!!!
               
                                                                                                                         Oleh : Nidi Sarmidzi

Rabu, 17 Agustus 2011

RAMADHAN BULAN IDAMAN

Bulan suci yang dinantikan kini telah tiba
Ramadhan kembali hadir dengan harapannya
Untuk hati terasa menanti bulanan indah
Yang berbias amaliyah indah nan terciah
Ibu bapak… Ramadhan t’lah tiba…
Ayo kawan… Sambutlah ia…
Sambutlah Ramadhan…
Sambutlah Ramadhan…
………………………………………………………………..
(Justice Voice)
Wahai saudaraku.. beberapa hari lagi, tamu agung yang kita idam-idamkan akan segera datang menghampiri kita dengan membawa sejuta harapan untuk orang-orang yang beriman. Maka bersiap-siaplah untuk menyambutnya dengan hati yang suci dan ikhlas karena-Nya. Ya, ia adalah Ramadhan, bulan yang paling mulia diantara bulan-bulan lainnya. Siapa yang tidak rindu akan keagungan dan kemuliannya? Semua umat Islam pasti akan merasa gembira dan bersuka cita menyambut kedatangannya. Bahkan umat non-Islampun ikut senang dengan masuknya bulan Ramadhan ini. Sebab, biasanya barang-barang dagangan mereka yang berada di mall-mall dan pasar, laku keras diborong oleh kaum muslimin hingga menjelang hari kemenangan. Inilah keberkahan yang terpancar dari bulan yang penuh hikmah dan berkah. Semua orang akan tersenyum ria menikmati keindahan hidup dan kehidupan di bulan yang penuh ketentraman dan kasih sayang. Kucuran rizki yang melimpah ruah dan tersebar rata ke semua orang. Baik miskin, kaya, tua, muda, bahkan anak-anak sekalipun. Bonus pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT dalam setiap amaliah ibadah kita di siang dan malamnya. Maka beruntunglah bagi kita semua yang dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Dan semoga kita tidak hanya dapat menyambutnya saja, tapi diberikan kesempatan juga untuk bisa melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
Subhanallah.. Begitu besar karunia yang Allah limpahkan kepada kita dengan hadirnya bulan Ramadhan disisi kita. Dan yang paling istimewa lagi adalah kewajiban kita untuk berpuasa agar dapat menyemai gelar taqwa yang dijanjikan-Nya. Sebagaimana terukir dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqoroh : 183)”
Begitulah Allah membimbing dan mengajarkan sebuah ketaatan dan kesabaran kepada kita semua untuk senantiasa berada dalam lautan cinta-Nya. Keutamaan dan keistimewaan puasa terletak pada pelaksanaannya, yang berbeda dengan ibadah-ibadah yang terhimpun dalam rukun Islam yang lainnya. Seperti syahadat, shalat, zakat ataupun haji. Semua ibadah tersebut terlihat oleh kasat mata manusia. Sedangkan puasa siapa yang tahu? Kita tidak bisa melihat dan menilai seseorang itu sedang berpuasa atau tidak, karena puasa adalah amaliah ibadah antara dirinya dan Allah SWT yang benar-benar dilandasi dengan keimanan yang penuh dalam diri setiap muslim. Oleh sebab itu, hanya Allahlah yang langsung menilainya dan memberikan ganjaran atasnya. Kita tidak bisa berdusta dalam hati kita, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati manusia.
Wahai saudaraku.. ada dua buah kebahagiaan yang dapat kita petik dari ibadah puasa yang kita tunaikan di bulan Ramadhan ini. Yaitu, kebahagiaan ketika datang waktu berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan tuhannya. Bagaimana tidak, ketika seharian kita menahan lapar, haus dan segala nafsu yang membatalkannya. Dan kemudian disandingkan di hadapan kita dengan hidangan istimewa menjelang magrib tiba. Pastinya kita merasa senang dan gembira sambil menghitung detik-detik waktu berbuka tiba. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah ketika kita dipertemukan dengan Sang Maha Sempurna kelak. Yakni dipertemukan dengan Allah SWT yang telah menciptakan kita dan alam semesta yang terhampar luas ini.
Wallahu a’lamu bishowab…
Nied Almidzi

Sabtu, 21 Mei 2011

Ummul Fikroh Fair 2011

Pagi itu langit masih terlihat hitam, dan bintang-bintang masih setia menghiasinya. Selepas membuka mata, aku teringat bahwa hari ini adalah pembukaan Ummul Fikroh Fair 2011. Kemudian ku bergegas keluar dari kamar untuk menunaikan shalat subuh berjaa'ah di masjid yang tidak jauh dari rumahku. Udara pagi yang terhempas di tubuh ini begitu dingin dan sejuk seakan-akan ku berada di kutub utara. Sementara aku yang tengah mengambil air wudhu terus berperang melawan dinginnya air yang kerap membuat ku menggigil. Suasana terasa hening dan syahdu membuat hatiku menjadi tentram nan damai. Tak ku dengar suara apapun, hanya alunan tarhim yang menggema di setiap masjid dan ada juga yang sudah mengumandangkan adzan. Selepas menunaikan shalat subuh lalu kusempurnakan dengan membaca beberapa ayat-ayat cinta Allah SWT hingga jarum jam di masjid itu menunjukkan pukul 05.30 WIB dan akhirnya ku beranjak untuk pulang ke rumah. Langit sudah semakin memutih, bintang-bintang dan bulanpun terlihat begitu pucat di angkasa sana. Ini bertanda siang akan segera datang. Lalu ku lanjutkan azamku untuk berangkat ke kampus untuk melaksanakan suksesi pembukaan UFF 2011 tersebut, karena pada hari sebelumnya aku taklimatkan ke semua panitia untuk berkumpul di Aula Madya IAIN "SMH" Banten pukul 07.00 WIB, sementara acara pembukaannya akan dilaksanakan pukul 08.00 WIB.
Blade merahku mulai ku panaskan dan perlahan-lahan ku dorong keluar rumah, sementara orang-orang sudah mulai ramai di jalan-jalan kampung yang rindang itu untuk menghabiskan waktu bersama dinginnya pagi. Ada diantara mereka yang berlari pagi, ada yang main bulu tangkis, ada juga yang sibuk membereskan atau bersih-bersih halaman depan rumahnya. Termasuk bapakku, yang biasanya setelah menyaksikan ceramah dan berita pagi di Televisi, beliau pasti ke depan halaman rumah untuk menyirami bunga-bunga yang masih menguncup, dan terkadang juga aku atau kakakku. Seiring waktu yang terus berputar dan sinar mentari yang sudah mulai merona di langit luas sebelah timur, namun berlum terlihat jelas karena terhalang oleh pohon-pohon yang rimbun. Ibuku yang baru saja keluar dari dapur menemuiku di mana aku memanaskan motorku.
"Mau pergi kemana Nid pagi-pagi bener?" Tanya ibukku dengan nada rendah
"Kebetulan hari ini ada kegiatan bu di kampus." Jawabku sambil tersenyum manis
"Kalo mau sarapan masih ada nasi tuh, tapi lauknya belum dimasak sisa tadi malam!" Imbuhnya
"Nanti ja lah gampang, masih terlalu pagi kalo sarapan sekarang." Sedikit menyangkal
"Ya dah bu, saya mau berangkat ke kampus sekarang" Pamitku sambil mencium tangannya
Bapakku yang berada di depan kuhampiri untuk memohon pamit dan doanya. Jarum jam di rumahku sudah menunjukkan pukul 06.15, aku tidak mau datang kemudian helm dan tas rangselku mulai ku pakai dan bergegas untuk berangkat.

                                                                            ***

Dalam sepanjang perjalanan itu, HP-ku berbunyi berulang kali, sepertinya banyak panggilan atau sms yang masuk. Namun aku tak memperdulikannya karena sebentar lagi aku sampai di kampus. Jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 06.50, berarti tinggal sepuluh menit lagi aku harus sampai di sana. “Pokoknya jangan sampai aku datang terlambat atau lewat dari yang ditentukan, karena pemimpin harus jadi teladan bukan telatan. He..he..” Gumamku dalam hati. Gas terus ku tancap hingga meyelip rentetan mobil dan motor di sebelah kiriku.
Sinar mentari di pagi itu kian merona berwarna kuning keemasan dan terus menjelajah hingga perkotaan. Dari kejauhan nampak beberapa ikhwan yang sudah stand by di dalam aula sejak beberapa menit sebelum kedatanganku. Dan beberapa akhwat juga sibuk membungkus konsumsi di sekretariat LDK untuk tamu undangan. Dan alhamdulillah, aku juga tidak terlambat sampai di sana dan langsung bergabung menyiapkan hal-hal yang belum selesai, seperti infocus yang belum terpasang saat itu.
Oia, aku baru sadar ada beberapa panggilan dan sms yang masuk di HP-ku. Kemudian langsung saja ku lihat, ternyata ada 3 panggilan tak terjawab dari chozinuddin selaku ketua panitia dan 1 sms yang masuk darinya.
 “Akh kursi sofa gimana? Mau d ambil jam brp?”. Isi sms tadi
Sms itu tidak perlu ku jawab, karena aku sudah bertemu langsung dengannya di depan aula.
“Afwan akhi, tadi ana masih di jalan, jadi ga sempet terima telfon apalagi buka sms” Kataku sedikit menjelaskan
“Ayo kita ambil kursinya sekarang di ruang Purek 3”. Ajakku kepada semua temen-temen ikhwan yang ada di sana.
Tapi sepertinya para dosen dan seluruh karyawan sedang ada apel pagi di depan, dan purek 3 pun ada di dalamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, sementara kursi belum di bawa ke aula. Satu sama lain di antara kami saling menatap, lalu ada yang merunduk dan ada juga yang membuang pandangan ke luar sebelah kiri gedung rektorat. Tak satupun kata yang terucap dari bibir ini, dan tampaknya wajah mereka sedikit murung dengan keadaan yang demikian. Tapi aku harus mampu membawa keadaan yang tidak membuat mereka hilang semangat. Sebagian panitia yang lain juga sudah datang dan berkumpul di aula. Aku berfikir sejenak, daripada kita berdiri di depan pintu rektorat ini yang sepi dan hampa, mending kita kembali ke aula hingga apel pagi usai di laksanakan.
“Akhi, kita ke aula lagi deh, nanti kita ke sini lagi setelah apel para dosen selesai”. Kataku dengan nada sedikit keras dan memecah keheningan
“Ya dah akh, kita ke aula dulu”. Jawab andri dengan mengangguk-anggukan kepala 
“Ya.. Ayo.. ayo..”. Semuanya mengamini ajakanku

                                                                     ***

Aku tidak ingin menunjukkan rasa kecewa ini kepada teman-teman yang lain, sehingga aku harus tetap tegar menghadapinya. Aula yang ramai dengan hiasan-hiasan di dinding, dekorasi panggung yang mungil dan menawan, serta baliho besar yang terpampang di depan dengan desain yang indah dan menarik, cukuplah untuk menghibur hatiku yang sedang gontai. Ku lihat panitia akhwat yang tengah membawa konsumsi di sebelah kananku, dan ada juga yang meluruskan kursi yang masih belum beraturan di dalam aula, mereka tampak begitu kompak dengan seragam batik dan kerudung yang mereka kenakan. Sedangkan ikhwan bermacam-macam dengan berbagai motif yang mereka senangi. Tapi yang terpenting adalah kerjasamanya, bukan seragamnya. Ya kan!

Suasana kampus sudah semakin ramai, karena pada waktu yang sama FORMASI juga ada acara pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa (POM XIII) tepat di depan aula, yakni di lapangan syari’ah. Tapi tidaklah mengapa, itung-itung untuk memeriahkan acara kita juga. Kan namanya juga “Ummul Fikroh Fair”, jadi harus ramai dan meriah. Para peserta MSQ pun sudah berbondong-bondong datang dan siap mengikuti perlombaan. Tapi sepertinya acara belum bisa dimulai. Sementara sebagian panitia juga terlihat setengah bingung dan bimbang melihat belum ada kepastian untuk dimulainya acara.
“Akh nid, apel pagi dah selesai tuh, ayo kita ke rektorat lagi”. Ujar Syarif dengan antusias
“Ok.. Ayo kita langsung saja ke sana! Ajak temen-temen juga tuh di depan”. Kataku sambil mendahului
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, harusnya acara sudah di mulai. Para pesera MSQ sudah berjejer mengisi kursi yang panitia siapkan. Tapi tamu undangan dari Kemenag dan walikota tak kunjung datang. Sementara pak rektor dan purek 3 masih berada di depan rektorat dimana mereka tengah berbincang-bincang usai apel pagi. Dan kami masih setia menunggu mereka di depan ruangannya.
“Jika pak rektor datang, kita harus ingatkan lagi bahwa beliau akan memberikan sambutan di LDK”. Ungkapku kepada ketua SC
“Ya antum ja yah yang mengingatkan, saya memastikan ke purek 3 untuk pinjem kursi” Jawab ketua SC mengelak
“Oh ya dah..” Aku mengalah
Suasana semakin tegang di dalam ruang tunggu itu, tepatnya di depan ruang pak rektor. Udara pagi yang dingin kini beruba menjadi panas. Ketua panitia POM XIII dari FORMASI pun ikut menunggu kehadiran pak rektor untuk memberikan sambutan di acaranya. Tak banyak hal yang aku perbuat, hanya berdoa kepada Allah SWT agar dipermudah segalanya.
Hatiku semakin tidak tenang, ingin cepat memulai dan mensukseskan agenda UFF ini. Aku teringat perjuangan dan pengorbanan teman-teman panitia, yang sudah berjibako mendesain dan menyusun agenda kegiatan yang besar dan spektakuler ini. Persiapan yang kami lakukan sekitar 2 bulan lebih dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Tak hanya waktu yang ia korbankan, tapi tenaga, harta bahkan sampai ada yang jatuh sakit karena menahan lelah dan letih. Subhanallah.. Semoga Allah senantiasa meridhoi dan membalas dengan yang setimpal. Amin..

“Akh nid, kok ngelamun?? Itu pak rektor sudah datang..”. Ungkap hafid sembari memegang pundakku
“Astagfirullah.. Ya..ya.., afwan akh”. Aku tersentak
Pak rektor dan purek 3 berjalan bersama, diikuti oleh sekretaris dan beberapa karyawan lainnya.
“Assalamualaikum.. Bapak punten, kami dari LDK meminta Bapak untuk sambutan di acara kami sekarang pak?” Pintaku dengan hembusan nafas yang begitu cepat
“Waalaikumsalam.. Purek 3 ja tuh yang sambutan, bapak mau keluar”.  Jawab pak rektor
“Mohon maaf pak sebelumnya, bukannya bapak malam jum’at kemaren sudah siap untuk memberikan sambutan di acara kami”. Imbuhku
“Bapak mau ta’ziyah sekarang ke salah satu rumah karyawan yang bapaknya meninggal”.
“FORMASI sekarang lagi ya? Cobasih koordinasi dulu kalo ngadain kegiatan, agar ga bentrok kayak gini”. Ungkapnya sambil masuk ke ruangannya.
“Cobaan apa lagi yang menimpa kami??? Akankah kami mampu melewatinya”. Gumamku dalam hati. Para peserta MSQ sudah berdatangan, namun acara pembukaan belum juga siap.
Aku tertegun, mendengarkan pernyataan pak rektor tadi. Teman-teman yang lain juga terperangah seakan kehadiran pak rektor sangat sulit diharapkan. Semuanya terdiam seribu bahasa dengan kepala merunduk ke bawah.

                                                                                ***

Bersambung...
Nied Al-Midzi

Selasa, 29 Maret 2011

Pemuda berkarya dan membangun

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seolah-olah mereka adalah bangunan yang tersusun kokoh". (QS. As-Shoff : 4)
Pemuda harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa kejayaan itu hanya dapat diwujudkan dengan pengorbanan dan prestasi, bukan dengan banyak bicara, karena orang yang hanya banyak bicara tapi tidak bekerja niscaya dibenci oleh Allah SWT dijelaskan dalam surat As-Shoff : 3 yang artinya :
"Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan".

Rabu, 23 Februari 2011

KEMBALI BANGKIT

Lama sudah kuarungi samudera kehidupan ini
Bertabur gundah gelisah dan keluh kesah
Terjalan ombak menghantam batas dinding Qalbu
Goyahkan niat arah dan tujuan
Semakin jauh kudayung perahuku
Semakin besar rintangan yang menghadang
Amukan badai yang tak terjinakkan
Runtuhkan hati yang ragu dan bimbang

Hampir hati tak mampu bertahan
Namun jiwa tak kenal gentar
Kulawan cobaan penuh harapan
Tawakal pada-Nya tak kulupakan
Bisikan hati kecil menggema sukma
Bangkitkan semangat jiwa perjuangan
Hanya keinginan diri dan keyakinan hati
Mampu merubah suasana baru dalam hidup ini

                                                                                                                                                     Oleh : Nidi Sarmidzi


Selasa, 15 Februari 2011

Sang Penghibur


Segala puji hanya milik Allah SWT.. Kata itulah yang sering kali kita ucapkan, di manapun dan pada situasi apapun kita berada, dan takkan pernah mampu mengingkari hati sanubari kita atas nikmat, anugerah, dan seluruh fasilitas hidup yang tak terhitung lagi banyak dan bentuknya yang selalu saja mengiringi di setiap hembusan nafas dan detak jantung ini, Allah berikan kapada seluruh hamba-Nya segala hal, yang tidak akan pernah bisa terhitung oleh otak manusia yang sangat terbatas ini. Atas Rahman dan Rahim-Nyalah kita bisa hidup di dunia ini sehingga setiap jiwa merasakan keindahan dan kenikmatan hidup yang penuh limpahan kasih dan sayang. Kau jadikan raga ini dengan sempurna, otak bisa berfikir dengan akal, hati mampu merasakan getaran jiwa, mata  dapat melihat, telinga mampu mendengar, kaki melangkah tanpa kenal lelah, tangan yang kuat, dan masih banyak organ tubuh yang Allah ciptakan. Sungguh Kau adalah Sang Penghibur hatiku, limpahan rahmat dan hidayah-Mu menambah kedekatanku pada-Mu. Tapi terkadang kami tidak sadar akan hal itu, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, kenyataan yang ada tidak sesuai dengan semestinya. Mata yang indah ini terkadang kita kotori dengan debu-debu kemaksiatan, hati yang suci ini juga kita nodai dengan gumpalan tinta hitam kejahatan, akal yang sehat ini kita sakiti dengan kelalaian mengingat-Mu. Ampuni kami ya Allah.. kini ku bertobat pada-Mu.. Terimalah simpuh sujudku ini, hiasilah taman-taman hati yang kering kerontang akan iman kepada-Mu, kan ku basahi selalu bibir ini dengan dzikir mengingat-Mu, bimbinglah selalu dalam setiap langkah kehidupan kami yang penuh onak dan duri ini, kuatkanlah kami dari segala halang rintang yang membentang dalam samudera kehidupan sesaat ini. Lindungilah kami dari segala tipu daya dunia, demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat kelak…
(Waallahu ’alamu bishowab..)

Selasa, 11 Januari 2011

Jiwa-jiwa yang Ikhlas


Setiap jiwa manusia niscaya pernah merasakan warna-warni perasaan dalam hidupnya. Saat ia suka hatinya bahagia, kala ia duka hatinya sedih, ada yang berada dalam kesedihan tapi hatinya senang, dan ada juga yang dalam keadaan senang, tapi hatinya tidak bahagia. Hal-hal di atas akan menimpa setiap insan yang hidup di muka bumi ini, dan ia datang kapan saja, kepada siapa saja dan sewaktu-waktu bisa berubah-ubah dalam waktu yang relatif singkat. Demikianlah dinamika kehidupan manusia yang membuktikan bahwa kita benar-benar sebagai manusia yang do’if (lemah) tidak ada jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi dalam kehidupan di dunia ini yang penuh dengan tipu daya yang menggiurkan. Hal tersebut adalah merupakan ketetapan sang Khalik yang Maha Kuasa, manusia hanya bisa berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam hidupnya dan menerimanya dengan penuh keimanan sehingga dapat memberikan ketenangan jiwa, kesabaran, ketabahan, dan ketawakalan. Dengan pandangan demikian maka apapun yang terjadi padanya maka segalanya akan diserahkan kepada Allah, karena segala yang datang menimpanya, baik itu berupa suka atau duka, senang atau susah, sedih ataupun bahagia, semua itu adalah merupakan cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya sebagai barometer keimanan dan ketakwaannya. Semakin tinggi imannya maka semakin tinggi pula kadar ujian yang menimpanya. Apabila ia mampu melewati ujian atau cobaan tersebut maka meningkatlah pula derajat keimannya, dan akan seterusnya demikian sebagaimana ujian yang menimpa para nabi dan rasul.    
Sungguh berutung bagi orang-orang yang mampu membendung segala perasaan gundahnya, dan menjalani hidup dengan penuh kesabaran. Di kala ia suka maka hatinya bahagia dan ketika ia berada dalam duka, kesedihan, kesengsaraan, tapi hatinya tetap bahagia, ketika mendapatkan anugerah ataupun tidak mendapatkan anugerah ia tetap bahagia menjalaninya dengan senantiasa mengharapkan ridho dari Allah SWT. Orang demikian adalah orang yang memiliki jiwa keikhlasan. Dalam menyelami samudera dakwah ini, tak selalu mutiara yang kita dapati, tapi di sana akan ada duri-duri karang yang menjadi penghalang perjalanan ini. Maka orang yang selalu berselimut keikhlasan akan selalu menghiasi dirinya dengan penuh ketawakalan atas semua yang menghampiri dan merelakan segala pengorbanan dan perjuangan yang telah ditorehkan dalam lembaran-lembaran kertas suci ini. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepadanya untuk terus mengemban amanah dakwah ini, agar tegaknya Syari’at di muka bumi. Dan semoga kelak nanti ia ditempatkan di tempat yang setimpal dengan apa yang ia lakukan di dunia ini. Amin