Telah
tergerak jiwa ini untuk mempersembahkan sebuah cinta untuk menggapai segala
cita-cita dalam narasi perjuangan bersama HIMAWAR (Himpunan Mahasiswa
Waringinkurung). Ada angin, ada hujan, bahkan ada terik panas yang membakar
kulit selalu menjadi iklim perjuangan ini. Dari situlah pintu-pintu pengorbanan
akan terbuka hingga mengantarkan jiwa dan raga untuk terus belajar pada
kehidupan yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Organisasi kemahasiswaan yang berada di Waringinkurung
ini merupakan institusi kebanggaan mahasiswa Waringinkurung, sebagai wadah
penghimpun dari mozaik-mozaik para pejuang intelektual muda yang
berserakan. Bersatu padu, seiya dan sekata dalam satu barisan yang kokoh untuk
menggagas sebuah perubahan dan pembaharuan yang signifikan untuk dirinya beserta
masyarakat secara umum.
Terpaan angin
kencang tak menggetarkan hati untuk jatuh dan turun dari pohon yang bersar itu,
justru ketika ada angin sepoi-sepoi terkadang membuat kita lalai dalam kenyamanan
yang menyebabkan mudah untuk terjatuh. Semakin besar pohon, maka semakin besar
pula angin yang berhembus menerpanya. Begitulah alam mengajarkan kepada kita
tentang satu hukum kehidupan yang memiliki arti bahwa seorang yang ingin
menjadi besar, maka harus siap menghadapi segala terpaan problematika kehidupan
yang berhembus menyapanya. Besarnya badai di laut bebas bukan penghalang bagi
sang pelaut sejati untuk berhenti melanjutkan perjuangannya, melainkan terus
memperkuat diri dan meyakinkan hati untuk mampu menghadapi segala rintangan
yang menghadang. Hujan dan panas adalah dua sisi cuaca yang saling
bertentangan, ketika cuaca panas maka biasanya hujan tak berani untuk turun.
Namun jika cuaca mendung maka akan berpotensi besar untuk turunnya hujan. Namun, bagi para pejuang
sejati tak pernah layu meski panas menyongsongnya, dan ia tak kenal umes kala
hujan mengguyurnya.
Cerita
metaforis di atas merupakan gambaran akan kisah perjuangan nyata para pejuang generasa
pertama kepengurusan HIMAWAR meski badai ujian acapkali datang menyapa tak
membuatnya surut untuk terus maju ke depan. Tak begitu banyak memang agenda
yang telah ditunaikannya, hanya saja merupakan langkah-langkah awal dalam upaya menjadikannya sebagai proses
pembelajaran untuk mewujudkan pribadi pemimpin bangsa yang memiliki dedikasi tinggi dan mulia. Tak
peduli hujan lebat yang membasahi bumi, tak menganggap besar badai angin
menerpanya, juga tak pernah berteduh dari keadaan cuaca panas sekalipun.
Demikianlah kekuatan cinta yang telah terpatri dalam diri untuk memacu sang
penggiat perjuangan untuk merajut persatuan dan pembaharuan. Gudang cinta,
menjadi stok modal dalam menghembuskan nafas perjuangan bersama HIMAWAR yang
takkan pernah habis hingga takdir memisahkannya.
Beginilah
seharusnya, cinta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar